Jemparingan, Warisan Panahan Jawa yang Mengajarkan Ketenangan dan Filosofi Kehidupan
- Stories
- calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Besarnya partisipasi dalam perhelatan nasional itu juga menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjangkau masyarakat dari berbagai latar belakang dan wilayah.
Tradisi yang Dikenalkan Sejak Usia Dini
Salah satu gambaran keberlanjutan jemparingan terlihat dari kehadiran peserta anak-anak. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut berkompetisi bersama pemanah dewasa.
Astra Binawa, 13 tahun, menjadi salah satu peserta muda yang menarik perhatian. Pemanah asal Bergodo Roto Wijoyo, Bantul, tersebut telah mengenal dan menekuni jemparingan sejak berusia empat tahun.
Didampingi ayahnya, Astra mengikuti kompetisi dengan antusias meskipun belum berhasil membawa pulang piala.
Pengalamannya menunjukkan bahwa proses mengenal tradisi dapat dimulai sejak usia dini. Keterlibatan keluarga, komunitas, dan para pelatih menjadi bagian penting dalam memperkenalkan jemparingan kepada generasi berikutnya.
Bagi Astra, kompetisi bukan semata-mata tentang kemenangan. Ia menikmati kesempatan bertemu dengan pemanah lain dan berharap dapat memperbaiki kemampuannya pada penyelenggaraan mendatang.
“Harapannya ke depan pengin banget bisa juara,” katanya.
Ia juga menyampaikan masukan agar penyelenggara menempatkan juri lebih dekat dengan papan sasaran sehingga proses penilaian dapat berlangsung lebih mudah ketika anak panah peserta mengenai titik yang berdekatan.
Suara peserta muda seperti Astra menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan festival. Tradisi membutuhkan ruang belajar, kesempatan berlatih, kompetisi yang berkelanjutan, dan keterlibatan generasi muda.
Ketika Teknologi Bertemu Tradisi
Menjaga tradisi bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Hal itu terlihat dalam penyelenggaraan Gladhen Hageng Jemparingan 2026 yang mulai menerapkan sistem penilaian digital.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Sutarman SSTP MEng menjelaskan bahwa penggunaan real-time scoring system menjadi salah satu pembaruan dalam kompetisi tahun ini.
Melalui sistem tersebut, peserta dapat memantau perolehan nilai secara langsung melalui telepon seluler. Penghitungan skor juga berlangsung lebih cepat dan transparan.
“Tahun ini sistem skoring perlombaan sudah menggunakan sistem digital. Inovasi ini membuat perhitungan poin menjadi lebih cepat, transparan, dan dapat dipantau langsung oleh peserta secara real-time melalui ponsel masing-masing,” jelas Sutarman.
- person
- visibility 9
- forum 0
- Penulis: Giyono Padmo
- Editor: Hanny Garnet

Saat ini belum ada komentar