Jemparingan, Warisan Panahan Jawa yang Mengajarkan Ketenangan dan Filosofi Kehidupan
- Stories
- calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KULON PROGO, Pansela.co – Sebuah busur ditarik perlahan. Anak panah diarahkan menuju sasaran. Pemanah tidak hanya membutuhkan ketepatan bidikan, tetapi juga ketenangan pikiran, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri.
Ya, di balik gerakan sederhana itu, tersimpan filosofi kehidupan yang diwariskan melalui jemparingan, seni panahan tradisional Jawa yang hingga kini terus dijaga keberlangsungannya.
Tradisi tersebut kembali mempertemukan ratusan pemanah dari berbagai daerah dalam Gladhen Hageng Jemparingan Tingkat Nasional 2026 di Alun-Alun Wates, Kabupaten Kulon Progo, Minggu (25/10/2026).
Sebanyak 787 peserta dari 29 kabupaten/kota, enam provinsi, dan 121 komunitas jemparingan turut ambil bagian. Peserta dari Puerto Rico juga hadir dalam perhelatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo tersebut.
Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa mengikuti perlombaan dengan mengenakan busana adat gagrak Mataram. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa jemparingan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan tradisi yang masih memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat modern.
Lebih dari Sekadar Seni Memanah
Jemparingan memiliki karakter yang berbeda dari olahraga panahan pada umumnya. Tradisi ini tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan mengenai sasaran, tetapi juga menempatkan pengendalian diri sebagai bagian penting dari proses memanah.
Setiap peserta dituntut menjaga konsentrasi, mengatur pernapasan, mengendalikan emosi, serta mempertahankan ketenangan ketika melepaskan anak panah.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari filosofi yang melekat pada jemparingan. Ketepatan bidikan bukan satu-satunya ukuran, sebab proses menuju sasaran juga mengandung pelajaran tentang kesabaran dan keteguhan hati.
Bupati Kulon Progo, Dr R Agung Setyawan ST MSc MM memandang jemparingan sebagai tradisi yang memiliki makna lebih luas daripada aktivitas olahraga. Menurutnya, seni panahan tradisional tersebut menjadi sarana membangun persaudaraan, sportivitas, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa.
“Jemparingan memiliki daya tarik yang luas serta menjadi sarana mempertemukan masyarakat dalam semangat persaudaraan, sportivitas, dan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa,” ujar Agung.
- person
- visibility 8
- forum 0
- Penulis: Giyono Padmo
- Editor: Hanny Garnet

Saat ini belum ada komentar