Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Breaking News
Trending Tags
Beranda » Pansela » Manjer, Panjer dan Gerhana Matahari

Manjer, Panjer dan Gerhana Matahari

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 Repihan Sejarah Sudut Nusantara Berlatar Gerhana Sang Surya

Kelak sekitar satu setengah abad pasca peristiwa Gerhana Matahari Total yang bersejarah tersebut, Panjer muncul ke pentas sejarah sebagai sebuah kabupaten sendiri. Dan gempa politik di penghujung Perang Jawa / Perang Dipanegara memaksa Kabupaten Panjer berubah nama menjadi Kabupaten Kebumen.

Manjer, Panjer dan Gerhana Matahari
Rekonstruksi wilayah Gerhana Matahari Total 7 April 1502 di pulau Jawa
dan sekitarnya. Angka-angka menunjukkan jam-jam terjadinya puncak
gerhana dalam WIB. Nampak lokasi Panjer (kini Kebumen) berada di sumbu
Zona Total gerhana ini. Peristiwa langit tersebut mungkin menginspirasi
pemberian nama Panjer. Sumber: Sudibyo, 2019

www.inikebumen.net KULMINASI atas Matahari atau Manjer sesungguhnya merupakan peristiwa langit yang rutin terjadi setiap hari dan tidaklah cukup unik dalam perspektif astronomi. Peristiwa sehari-hari.

Namun manakala peristiwa Gerhana Matahari Total yang sangat langka terjadi pada Rabu 7 April 1502 kala sang Surya sedang Manjer di penghujung bulan Ramadhan (29 Ramadhan 907 H) pada daerah yang sebagian besar penduduknya memeluk Islam dan berdiam di sekitar Pesantren Somalangu dengan natural leader-nya Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani yang kharismatis dan berperan penting dalam dinamika Kesultanan Demak pada saat itu, kesan yang ditimbulkannya akan luar biasa dan menginspirasi.

Dari sudut pandang toponomi, boleh jadi peristiwa itu ditabalkan menjadi nama suatu daerah sebagai Manjer yang lama kelamaan berubah pengucapannya menjadi Panjer.
Kelak sekitar satu setengah abad pasca peristiwa Gerhana Matahari Total yang bersejarah tersebut, Panjer muncul ke pentas sejarah sebagai sebuah kabupaten sendiri. Dan gempa politik di penghujung Perang Jawa / Perang Dipanegara memaksa Kabupaten Panjer berubah nama menjadi Kabupaten Kebumen.

Sekeping daerah di Lembah Luk Ulo, di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener yang menjadi anak sungai utamanya, di sisi selatan tanah Jawa bagian tengah. Saat itu Rabu 7 April 1502 TU (Tarikh Umum) yang bertepatan dengan 29 Ramadhan 907 H.

Penghujung bulan suci. Masyarakat Muslim setempat sedang bersiap-siap merayakan Idul Fitri di bawah natural leader Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani yang kelak populer dengan nama Syekh Abdul Kahfi Awwal. Kala waktu telah beranjak memasuki saat Dhuhur, mendadak di langit terjadi peristiwa yang sangat langka dan mengesankan.

Selama hampir tiga jam kemudian terjadi Bagowong (Pagowong) atau Coblong, istilah Jawa Kuna untuk Gerhana Matahari Total. Peristiwa langit langka itu nampaknya demikian mempesona dan menginspirasi, hingga diabadikan menjadi nama lokasi.

Terakhir kalinya Gerhana Matahari Total terjadi bagi daerah di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener adalah hampir enam abad sebelumnya. Tepatnya pada 24 Februari 928 TU, kala tanah itu masih dalam naungan Kerajaan Medang yang sedang menjalani masa-masa turbulensi seiring kudeta silih berganti.

Manakala Gerhana Matahari Total 7 April 1502 TU terjadi, tanah Jawa pun sedang menjalani metamorfosa dramatis. Di ujung timur Kerajaan Majapahit yang sudah tua masih bertahta namun kian berkeping-keping saja seakan sedang dipercepat menuju masa paripurnanya. Sedangkan di bagian tengah tanah Jawa kekuasaan bercorak lain mulai menanjak. Yakni Kesultanan Demak di bawah pimpinan Raden Patah yang menyandang gelar Sultan Alam Akbar al-Fattah.

Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani memegang peranan penting dalam Kesultanan Demak. Datang sebagai pendakwah dari tanah Hadhramaut, beliau memiliki hubungan sangat erat dengan Sunan Ampel dan Sunan Kudus, dua dari Wali Sanga yang menjadi tulang punggung Kesultanan Demak.

Pada tepian Sungai Kedungbener, Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani babat alas membuka lahan yang disebut tsumma dha’u yang beraroma harum. Disinilah salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia masakini, bahkan di Asia Tenggara, berdiri. Pesantren Somalangu secara resmi berdiri pada 25 Sya’ban 879 H (4 Januari 1475 TU) ditandai dengan sebuah prasasti berbahan batu zamrud yang kini masih ada dalam lingkungan pondok pesantren tersebut.

Manjer

Di penghujung suatu bulan Ramadhan, lebih dari seperempat abad setelah Pesantren Somalangu berdiri, peristiwa Gerhana Matahari Total yang mengesankan terjadi di langit setempat. Perhitungan astronomi modern yang termaktub dalam Five Millenium Canon of Solar Eclipses karya Fred Espenak (astronom NASA, Amerika Serikat) menunjukkan gerhana dimulai pada pukul 11:39 WIB.

Mulai saat itu langit siang secara berangsur-angsur meredup dan menggelap selagi Matahari secara perlahan-lahan nampak ‘robek.’ Mulai pukul 13:04 WIB langit menjadi betul-betul gelap dimana Matahari berubah menjadi bundaran hitam bermahkota putih lembut. Bintang-bintang pun bertaburan menghiasi langit yang sesungguhnya masih siang bolong. Hal ini berlangsung selama hampir 5 menit kemudian. Setelah itu langit secara berangsur-angsur mulai bertambah terang dan Matahari pun kembali ke bentuk bundarnya sebagai penanda akhir gerhana pada pukul 14:31 WIB.

Perhitungan sederhana guna memprakirakan terjadinya Gerhana Matahari sudah dikenal sejak masa Yunani Kuno lewat Claudius Ptolomeus (100-170 TU) seperti termaktub dalam Almagest. Al-Battani (wafat 929 TU) memperbaikinya sehingga memungkinkan pengembangan prediksi Gerhana Matahari Cincin.

Meski demikian belum ada bukti karya-karya ini telah masuk dan dipelajari di tanah Jawa terutama pada era transisi Kerajaan Majapahit – Kesultanan Demak. Sehingga dapat diperkirakan tak ada penduduk yang tinggal di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener yang telah memprakirakan kejadian Gerhana Matahari sebelumnya.

Akan tetapi begitu gerhana mulai terjadi dan langit mulai menggelap, orang-orang pun riuh menabuh lesung mengikuti tradisi Jawa akan mitos Batara Kala menelan sang surya. Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tengah siang bolong, saat Matahari sedang berkulminasi atas (istiwa’) yang menadai awal waktu Dhuhur, di penghujung bulan suci bagi Umat Islam, nampaknya memberikan kesan sangat mendalam bagi orang-orang yang tinggal di antara Sungai Luk Ulo hingga Sungai Kedungbener. Peristiwa luar biasa itu mungkin menginspirasi pemberian nama sebuah daerah di dekat Pesantren Somalangu sebagai Panjer.

Dalam Bahasa Jawa, kata Panjer memiliki kedudukan dan makna yang sama dengan kata Manjer. Berdasarkan riset pak Widya Sawitar, astronom senior di POJ (Planetarium dan Observatorium Jakarta), Orang Jawa mengenal sekitar 90 nama julukan untuk Matahari.

Nama-nama julukan tersebut sebagian merupakan pengaruh dari bahasa Sansekerta dan umumnya terkait kalender pertanian (pranata mangsa), simbolisasi keseharian, penanda rentang waktu serta penanda fenomena alam tertentu. Kata Manjer adalah salah satu diantaranya. Manjer merupakan istilah bagi transit Matahari atau istiwa’, yaitu situasi saat Matahari mencapai titik kulminasi atas dalam peredaran semu hariannya. Nama julukan lain yang memiliki makna serupa Manjer adalah Panengahnikangrawi dan Suryasata.

Kulminasi atas Matahari sesungguhnya merupakan peristiwa langit yang rutin terjadi setiap hari dan tidaklah cukup unik dalam perspektif astronomi. Namun manakala peristiwa Gerhana Matahari Total yang sangat langka terjadi kala sang Surya sedang manjer di penghujung bulan Ramadhan pada daerah yang sebagian besar penduduknya memeluk Islam, kesan yang ditimbulkannya akan luar biasa dan menginspirasi.

Analisis astronomi menunjukkan pasca Gerhana Matahari Total 7 April 1502, selama setengah milenium (lima abad) kemudian tanah Panjer hanya mengalami dua Gerhana Matahari Total lainnya. Masing-masing Gerhana Matahari Total 24 Juli 1683 yang terjadi kala Matahari terbit dan Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983 yang terjadi di pagi hari.

Lebih dari seabad kemudian pasca Gerhana Matahari Total 7 April 1502 yang bersejarah, Panjer telah berkembang meluas dan terstruktur melampaui ukuran sebuah desa. Panjer kemudian menyeruak ke pentas sejarah di era Kerajaan Mataram manakala Sultan Agung mempersiapkan invasi ke Batavia yang dikuasai VOC. Tersebut nama Ki Bagus Badranala yang menyiapkan keperluan logistik dan sumberdaya manusia guna mendukung invasi tersebut, dalam kurun 1627-1629 TU. Atas jasa-jasanya maka Ki Bagus Badranala dikukuhkan menjadi Ki Gede Panjer Roma pada 21 Agustus 1629 TU.

Berselang 13 tahun kemudian Ki Gede Panjer Roma dilantik menjadi sebagai Bupati Panjer yang pertama dan menyandang nama baru: Panembahan Badranala. Bahwa dua abad kemudian terjadi gempa politik tanah Jawa seiring meletusnya Perang Jawa / Perang Dipanegara yang demikian menghancurkan, yang memaksa berubahnya nama Kabupaten Panjer menjadi Kabupaten Kebumen, itu tidak menghilangkan ketokohan Panembahan Badranala. Tanggal 21 Agustus 1629 TU pun kini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kab. Kebumen berdasarkan Peraturan Daerah no. 3/2018.

Hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis maupun cerita tutur (lisan) terkait asal-usul nama Panjer dan peristiwa langit langka berupa Gerhana Matahari Total di tengah siang bolong. Namun dalam sudut pandang toponomi, yakni cabang ilmu pengetahuan yang mencari hubungan antara fenomena alam lokal dengan nama daerah setempat, hal itu tetap berterima. Terdapat banyak tempat di tanah Kebumen yang mengandung unsur nama karang- (misalnya Karangsambung, Karanggayam, Karangpoh, Karanganyar, Karangtanjung, Karangkembang dan sebagainya).

Tempat-tempat tersebut secara tertulis maupun lisan juga belum diketahui asal-usulnya. Namun dengan pendekatan toponomi, kata karang- yang melekat pada nama tempat-tempat itu terbukti merepresentasikan fenomena alam setempat terkait pegunungan/perbukitan dan formasi-formasi batuan yang khas.

Seperti halnya bangsa-bangsa lainnya di dunia, leluhur manusia Indonesia di masa silam mempelajari astronomi sebagai bagian dari bertahan hidup. Guna mereduksi sebesar mungkin dampak dari fenomena-fenomena alam tertentu yang dipandang merugikan (misalnya musim kemarau) dan sebaliknya mengeksploitasi semaksimal mungkin terjadi fenomena-fenomena alam lainnya yang menguntungkan (misalnya musim hujan) untuk bercocok tanam dan mengembangkan peradaban. Dalam kesempatan yang sama pembelajaran itu juga mewariskan pengetahuan tersebut pada nama-nama daerah dan istilah-istilah unik bagi anak cucunya.(*)

Muh Ma’rufin Sudibyo
Penulis adalah Putra Kebumen, Anggota Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama RI Bidang Kepakaran

  • person
  • visibility 2
  • forum 0
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Belum Kapok, Pemuda Asal Puring ini Ditangkap Polisi Kedelapan Kalinya

    Belum Kapok, Pemuda Asal Puring ini Ditangkap Polisi Kedelapan Kalinya

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2020
    • account_circle pansela
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Tujuh Kali Masuk Bui, Residivis Berulah Lagi Gadai Sepeda Motor Kawan Gareng saat dihadirkan saat press rilis. (Foto: Humas Polres Kebumen) INI Kebumen, KEBUMEN – Pemuda berinisial NA alias Gareng (32) warga Desa Kaleng, Kecamatan Puring, ditangkap jajaran Sat Reskrim Polres Kebumen. Dia diduga melakukan penggelapan sepeda motor Honda Beat milik temannya warga Kecamatan Sempor. […]

  • Peduli Korban Kekeringan di Kebumen, PLN Bantu 93 Tangki Air Bersih

    Peduli Korban Kekeringan di Kebumen, PLN Bantu 93 Tangki Air Bersih

    • calendar_month Selasa, 15 Okt 2019
    • account_circle pansela
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Untuk Kabupaten Kebumen bantuan yang disalurkan sebanyak 93 tangki atau 465 ribu liter senilai Rp 20,6 juta lebih.  Tangki pengangkut bantuan air bersih dari PLN dilepas dari halaman Pendopo Rumdin Bupati Kebumen www.inikebumen.net KEBUMEN – PT PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Cilacap menyerahkan bantuan air bersih sebanyak 1,550 juta liter. Bantuan tersebut didistribusikan untuk […]

  • Perkuat Layanan di Jateng, Suzuki Resmikan Outlet 3S di Pati

    Perkuat Layanan di Jateng, Suzuki Resmikan Outlet 3S di Pati

    • calendar_month Selasa, 18 Sep 2018
    • account_circle pansela
    • visibility 2
    • 0Komentar

    www.inikebumen.net PATI – Memasuki pertengahan semester II tahun 2018, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) semakin memperkuat layanannya dengan meresmikan outlet 3S PT Remaja Adidaya Motor (RAM) di daerah Pati, Jawa Tengah, Senin 17 September 2018. PT SIS meresmikan outlet 3S PT Remaja Adidaya Motor (RAM) di daerah Pati, Jawa Tengah, Senin 17 September 2018. Outlet […]

  • Jadwal Sholat Kebumen Hari Ini Minggu 13 Agustus 2023: Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya

    Jadwal Sholat Kebumen Hari Ini Minggu 13 Agustus 2023: Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya

    • calendar_month Sabtu, 12 Agt 2023
    • account_circle pansela
    • visibility 1
    • 0Komentar

     Jadwal sholat Kebumen. INIKEBUMEN.net – Jadwal sholat Kebumen, Jawa Tengah yang berlaku hari ini Minggu, 13 Agustus 2023. Jadwal sholat Kebumen dan sekitarnya ini meliputi sholat subuh, zuhur, asar, magrib dan isya. Dikutip dari laman Bimas Islam Kemenag, berikut jadwal sholat untuk wilayah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, hari ini Minggu, 13 Agustus 2023:Imsak04:24Subuh04:34Terbit05:48Duha06:16Zuhur11:50Asar15:10Magrib17:45Isya18:56 Itulah jadwal […]

  • Info Gempa! Cilacap Diguncang Gempa Bumi Magnitudo 4,5 Jumat Dini Hari, Getarannya Dirasakan di Kebumen

    Info Gempa! Cilacap Diguncang Gempa Bumi Magnitudo 4,5 Jumat Dini Hari, Getarannya Dirasakan di Kebumen

    • calendar_month Jumat, 12 Mei 2023
    • account_circle pansela
    • visibility 2
    • 0Komentar

     Gempa bumi Magnitudo 4,5 mengguncang Kabupaten Cilacap, Jumat dini hari.(BMKG) KEBUMEN – Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah diguncang gempa bumi Magnitudo 4,5 pada Jumat dini hari, 12 Mei 2023. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa bumi berkekuatan 4,5 magnitudo (M) tersebut terjadi pukul 04.56 WIB. Hasil analisis BMKG, episentrum gempa berada di koordinat 8,41 […]

  • Tak Bisa Cari Nafkah, Seniman Campursari Jalan Kaki 13 Kilometer Sambil Panggul Organ

    Tak Bisa Cari Nafkah, Seniman Campursari Jalan Kaki 13 Kilometer Sambil Panggul Organ

    • calendar_month Rabu, 18 Agt 2021
    • account_circle pansela
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Bupati Kebumen Siap Akomodir Aspirasi Para Pelaku Seni Sutim saat melakukan aksi jalan kaki dari Karanganyar menuju Kebumen INI Kebumen KEBUMEN – Seniman Campursari Sutim Seno Wardoyo, melakukan aksi jalan kaki sejauh 13 kilometer dari Karanganyar hingga Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen, Rabu, 18 Agustus 2021. Sutim berjalan kaki sambil memanggul organ kesayangannya yang selama […]

expand_less
Langganan Berita OK No thanks